Oleh: Imam Syafei, M.Pd
(Pemerhati Pendidikan Masyarakat)
BERITASEJABAR.id – Senin,20 April 2026.OPINI — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-385 tahun kembali digelar. Seremoni berlangsung meriah, ucapan selamat mengalir dari berbagai pihak. Namun di balik kemeriahan tersebut, ada satu hal yang tak bisa lagi ditunda: masyarakat menunggu jawaban nyata atas berbagai persoalan yang mendesak diselesaikan.
Banjir yang berulang kali terjadi, bahkan hingga menelan korban jiwa, tidak bisa lagi dipandang semata sebagai bencana alam semata. Fenomena ini menjadi indikator jelas bahwa penanganan lingkungan, penataan ruang, dan sistem mitigasi bencana yang ada saat ini belum berjalan secara tuntas dan maksimal. Ketika peristiwa yang sama terus berulang dari tahun ke tahun, maka yang dipertanyakan publik bukan lagi penyebabnya, melainkan keseriusan pemerintah dalam mencari solusi jangka panjang.
Sorotan tajam juga mengarah pada tata kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), termasuk BDS. Di tengah situasi di mana kepercayaan publik menjadi kunci utama, transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi. BUMD seharusnya hadir sebagai penggerak utama perekonomian daerah, bukan sekadar menjadi entitas administratif yang berjalan di tempat.
Persoalan yang lebih mendasar terlihat pada sektor pendidikan dan masa depan generasi muda. Masih terdapat anak-anak yang tidak dapat mengakses pendidikan menunjukkan bahwa pemerataan akses pendidikan belum sepenuhnya terwujud. Di sisi lain, tingginya angka pengangguran, terutama di kalangan pemuda, menjadi bukti bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini belum terhubung secara efektif dengan kebutuhan dunia kerja.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, para guru, termasuk guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), tetap menjalankan peran mereka sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan generasi bangsa. Namun, ketika kesejahteraan mereka masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan, maka upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung akan sulit mencapai hasil yang optimal.
Masalah-masalah ini bukanlah hal yang baru, apalagi kurangnya data atau kajian yang mendukung. Berbagai persoalan tersebut telah lama diketahui dan didiskusikan. Yang kerap kali absen adalah ketegasan dan komitmen untuk menuntaskan akar permasalahan secara menyeluruh.
Hari jadi seharusnya menjadi momen refleksi yang jujur dan kritis. Tanpa keberanian untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh, peringatan tahunan ini hanya akan menjadi rutinitas belaka yang kehilangan makna dan tujuan yang sesungguhnya.
Kabupaten Bandung tidaklah kekurangan potensi untuk berkembang. Sumber daya alam, sumber daya manusia, dan dukungan dari berbagai pihak menjadi modal berharga yang dapat dioptimalkan. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk berhenti menunda-nunda dan mulai menyelesaikan setiap persoalan dari akarnya.
Di usia yang ke-385 tahun ini, masyarakat tidak lagi menunggu penjelasan atau alasan. Masyarakat menunggu jawaban nyata dan tindakan konkret. Di titik inilah kepemimpinan diuji.
Jika banjir terus berulang, jika masih ada anak yang tidak bersekolah, jika lulusan pendidikan masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, dan jika kesejahteraan para pendidik belum memadai, maka pertanyaan publik bukan lagi tentang apa masalahnya, melainkan kapan semua persoalan ini akan diselesaikan.
Pada akhirnya, yang akan dikenang oleh masyarakat bukanlah seberapa meriah perayaan yang digelar, melainkan seberapa berani para pemimpin menghadirkan perubahan yang nyata dan bermanfaat bagi seluruh warga.
Di usia Kabupaten Bandung yang ke-385 tahun ini, satu hal menjadi sangat jelas: masyarakat sudah cukup menunggu.
Narasumber : Imam Syafe’i
Editor : Ajunaedi





























