Oleh: Imam Syafei
Pemerhati Pendidikan Masyarakat
BERITASEJABAR.id – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini. Di masa lalu, beliau berani melawan tradisi kaku yang memingit dan melarang perempuan mengakses pendidikan. Melalui surat-suratnya, Kartini menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mengangkat derajat kaum perempuan dan membebaskan mereka dari belenggu kebodohan.
Saat ini, semangat perjuangan tersebut telah berkembang. Tidak lagi hanya sekadar berjuang untuk bisa bersekolah, melainkan menuntut pendidikan yang berkualitas, setara, dan relevan dengan tuntutan zaman. Pendidikan kini bukan hanya soal memiliki ijazah, tetapi tentang pengembangan literasi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta adaptasi terhadap teknologi dan dunia kerja. Bagi perempuan, pendidikan adalah alat untuk membangun kepercayaan diri, memperluas wawasan, serta membuka peluang karier dan kepemimpinan.
Dalam konteks Indonesia, perkembangan akses pendidikan perempuan menunjukkan tren yang menggembirakan, meski tantangan masih nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas telah mencapai 9,07 tahun, yang artinya sebagian besar penduduk telah menyelesaikan pendidikan setara SMP.
Namun, kesenjangan masih terasa di jenjang yang lebih tinggi. Persentase perempuan yang berhasil menempuh pendidikan tinggi baru mencapai sekitar 11,98%. Angka ini juga belum merata di seluruh wilayah; DKI Jakarta, Maluku, dan DI Yogyakarta menjadi provinsi dengan capaian tertinggi, sementara daerah pedesaan dan terpencil masih tertinggal. Hal ini menegaskan bahwa meski akses telah terbuka lebar, kesetaraan mutu dan jangkauan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia, tanpa memandang gender. Oleh karena itu, segala bentuk budaya atau hambatan yang membatasi ruang gerak perempuan untuk belajar dan berkarya harus diluruskan.
Di era digital saat ini, teknologi hadir sebagai solusi sekaligus tantangan baru. Di satu sisi, internet memungkinkan perempuan di daerah terpencil mengakses materi pembelajaran dan pelatihan keterampilan tanpa batas geografis. Namun di sisi lain, ketimpangan infrastruktur, akses perangkat, hingga risiko kejahatan siber dan kekerasan digital menjadi ancaman yang nyata.
Oleh karena itu, peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat krusial untuk memastikan bahwa pendidikan bagi perempuan tidak hanya tersedia, tetapi juga aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial, melainkan momentum evaluasi dan aksi nyata. Di lingkungan pendidikan, nilai-nilai Kartini perlu ditanamkan dengan menghapus stereotip bahwa perempuan hanya pantas berada di ranah domestik. Perempuan harus didorong untuk berani berprestasi di bidang sains, teknologi, hingga posisi kepemimpinan.
Dampak pendidikan perempuan juga sangat luas bagi pembangunan bangsa. Perempuan berpendidikan cenderung lebih mampu mengelola keluarga, menjamin kesehatan yang lebih baik, dan menciptakan generasi yang cerdas. Berbagai penelitian juga membuktikan bahwa tingginya partisipasi pendidikan perempuan berkorelasi dengan penurunan angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil.
Saat ini, kita sudah melihat kemajuan yang signifikan. Semakin banyak perempuan yang menjadi lulusan terbaik, dosen, peneliti, hingga pemimpin di berbagai sektor. Namun, perjalanan masih panjang.
Melanjutkan perjuangan Kartini berarti menjamin bahwa setiap perempuan, dari Sabang sampai Merauke, dari segala lapisan masyarakat, memiliki hak yang sama untuk belajar, berkarya, dan memimpin tanpa diskriminasi. Mari wujudkan mimpi Kartini bukan hanya dalam bingkai poster, melainkan dalam nyata kemajuan bangsa.
Sumber : Oleh Imam Syafe’i Pemerhati Pendidikan.Editor : Ajunaedi




























